SRINAGAR, KOMPAS.com – Tiga orang tewas di Kashmir India, Sabtu (18/9/2010) ketika polisi melepaskan tembakan pada kerumunan massa yang menolak pemberlakuan jam malam, untuk menghadiri pemakaman pengunjuk rasa yang tewas dalam demonstrasi anti-India di wilayah itu.

Sedikitnya 25 orang, termasuk 12 polisi, terluka dalam bentrokan Sabtu itu. Para pejabat polisi menyatakan, kekerasan Sabtu yang meletus setelah kerumunan massa berupaya menyerang rumah politikus pro-India di Kashmir selatan, memaksa mereka untuk melepaskan tembakan.

Beberapa saksi memperdebatkan tanggungjawab polisi. “Itu tembakan yang tak beralasan. Kami telah meneriakkan slogan-slogan dengan tenang dan membawa mayat ke pemakaman,” Sahil Bhat, seorang saksi.

Dua lagi pengunjuk rasa yang terluka, meninggal di rumah sakit, Jumat. Awal pekan ini Perdana Menteri Manmohan Singh, yang mendapat kecaman bahwa ia tidak menangani unjuk rasa itu dengan serius, mengadakan pertemuan dengan partai-partai sekutu dan oposisi.

Satu-satunya keputusan yang diambil adalah untuk mengirim delegasi politisi ke Kashmir. Putaran pemogokan dan unjuk rasa telah mencengkam kehidupan normal di Kashmir, satu-satunya negara bagian mayoritas Muslim di India yang didominasi Hindu.

Wilayah yang diperselisihkan itu telah di bawah aturan jam larangan keluar rumah pada waktu malam selama tiga bulan terakhir. Pada Sabtu, pemerintah melonggarkan jam malam itu di beberapa bagian Srinagar, ibukota musim panas Kashmir.

Puluhan ribu orang telah tewas sejak perlawanan gerilyawan di Himalaya yang indah itu meletus dua dasawarsa lalu, tapi aksi gerilyawan telah melemah pada beberapa tahun ini.

Sedikitnya 100 orang hingga kini telah tewas dalam protes anti-India yang telah berlangsung tiga bulan jumlah.Ini jumlah terbesar sejak perlawanan bersenjata terhadap pemerintah New Delhi meletus pada 1989.